Archive for ‘Kata-kata Hipnotis’

19 Mei 2012

Hukum Ekonomi Mencari Pahala

Beramal bagaikan hukum ekonomi. Dengan sedikit ber amal untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya.
Kalau puasa hari ini bagaikan berpuasa 1 tahun penuh. Kalau beramal shaleh malam ini maka dosa tahun lalu dan tahun depan akan diampuni. Membaca beberapa surah bagaikan menamatkan seluruh kitab.

Begitukah yang namanya amal shaleh itu? Tuhan disiasati.

5 September 2010

Followership

Pelatihan Kepemimpinan setiap saat diadakan. Jualan “Leadership” diselipkan di sela-sela acara kantor. Dari atas mimbar, di ruang kelas, di rekrutmen anggota baru. Semua orang dipandang kerdil karena “tidak punya jiwa kepemimpinan”. Semua orang diarahkan jadi pemimpin. Semua orang harusnya jadi pemimpin.

Karena kita banyak belagu ketika dipimpin. Karena kita tidak pandai memilih pemimpin. Harusnya ada followership.

3 September 2010

Sudah Takdir

Perkataan yang menumpulkan analisis. Yang diucapkan sebagai penutup dialog, diucapkan seakan-akan lawan bicara tidak beriman pada takdir.

Gagal karena kurang usaha. Ketidaktepatan keputusan karena kurang survei. Tidak mencari lebih luas. Tidak menelisik ke kedalaman.

Tetangga keracunan–> sudah takdir.

Pohon pinggir jalan tumbang–> sudah takdir.

Persib kalah—> sudah takdir.

Anak jadi bandel—> sudah takdir.

Motor dimaling–> sudah takdir.

Nikah lagi—> sudah takdir.

Ditilang polisi–> sudah takdir.

Saham simpanan anjlok–> sudah takdir.

Menyalahkan takdir buat membesarkan hati, menentramkan diri sendiri. Berkata biar kelihatan alim padahal lari dari ketidakmampuan berusaha. Perkataan yang tidak memotivasi diri untuk instropeksi kesalahan. Menumpulkan semangat untuk berjuang lebih baik.

Pengecut-pengecut yang memanfaatkan jargon agama.

19 Agustus 2010

Keramahan

Seorang teman tidak mau memasukkan anaknya di sebuah sekolah “francise ” internasional terkenal. Kenapa? Para ibu gurunya terlalu ramah, katanya. Hah???

Iya ramah yang palsu. Yang ramahnya seperti kalau kita ditawari berbagai menu di gerai makanan cepat saji. Yang ramahnya seperti sapaan custumer service bank swasta. Temanku  tidak mau anaknya belajar keramahan palsu. Keramahan dengan senyum palsu.

Tataplah orang-orang itu, maka kita akan sadar bahwa mereka sebenarnya tidak menatap kita, walaupun dari mulutnya berhamburan kata-kata dan sapaan manis.

Kata-kata akrab yang sebenarnya cuma prosedur standar baku.

17 Agustus 2010

Bercanda itu Serius

Kritikan, sindiran oleh peace maker biasanya disampaikan lewat candaan. Kagak mau buat keributan. Ndak mau teman tersinggung.

Kalaupun diserang balik, pasti berlindung dibalik kata hipnotis, “Aku kan cuma bercanda….”.

Yang disampaikan dalam candaan adalah hal yang paling serius.

16 Agustus 2010

Dalam Hati Siapa Tahu

Membaca, menyisir dan menyatat status Facebook  yang “alim”. Yang mengutip ayat-ayat kitab suci or hadits.

Mau pamer ilmu?

Mau unjuk keshalehan?

Biar dianggap alim? Biar selingkuh di inbox kagak dicurigai?

Dalam kata, dalam hati. Hati orang siapa tahu.

13 Agustus 2010

Jangan Beri Ikannya

Pejabat itu berbusa-busa mengulang-ulang  pepatah itu.

“Dengan pelatihan ini kami mengharapkan agar peserta bisa mandiri. Kami berprinsip tidak akan memberi ikannya. Tapi kami memberi kailnya agar…bla…bla….bla…..”.

Lalu kata-kata usil datang…

Bagaimana bisa mancing kalau ikannya sudah di “jala” sama orang lain?

Bagaimana bisa mancing di kolam/sungai/laut, padahal semuanya sudah di monopoli?

12 Agustus 2010

Cukup Bagus

Bagaimana pertunjukan teater tadi malam? Cukup bagus.

Bagaimana masakan cafe itu? Cukup enaklah…

Berapa peserta Sepeda Ceria tadi pagi? Cukup banyak…

Orang Indonesia itu kurang suka memuji orang. Hampir apa saja dikomentari “cukup”.

Apa karena tidak mau mengakui kehebatan orang lain? Atau ingin bersikap tengah-tengah saja? Biar yang dikomentari tidak jadi sombong (?)

12 Agustus 2010

Kita Semua Punya Salah, tapi…

Kita semua punya salah, tapi kesalahanku tidak seperti kesalahannya Ariel, Luna, atau Tari. Tidak juga seperti kesalahan Krisdayanti.

Kesalahanku mungkin sering membajak program komputer, melanggar lampu lalu lintas, mendengki, tapi tidak seperti mereka.

Maka, tolong jangan sederhanakan, seakan2 kita dapat memaklumi kesalahan mereka cuma karena kalimat hipnotis, “Kita semua punya salah”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.